Oleh: Poetry Ann
Judul Buku: Oase Kehidupan dari Padang
Pasir
Penulis : Diday Tea
Penerbit : Quanta (Cetakan
pertama, 2012)
Tebal :
xviii + 258 halaman
ISBN :
978-602-003379-2
50 cerita dari Diday yang dikemas ringan dalam buku
ini, membuktikan pada kita bahwa tidak ada satu pun peristiwa atau kejadian
yang kita alami dalam hidup ini berjalan biasa-biasa saja dan terjadi sia-sia.
Segala hal, sekecil apapun peristiwa yang kita alami dalam kehidupan ini adalah
unik, dan akan menjadi luar biasa jika kita mampu menemukan hikmah yang
terkandung di baliknya untuk kemudian membagikannya kembali kepada orang lain.
Bahkan hal yang kita anggap tidak menarik pun bisa menjadi hal yang sangat
menarik.
Diday menceritakan kembali kepada kita apa yang
didapatkannya dari kehidupan. Dari berbagai hal yang pernah dibaca, didengar,
dipelajari dan dialaminya langsung dengan gaya bertutur yang mudah dipahami dan
tidak membosankan. Dari mulai cerita-cerita yang menyedihkan, mengharukan,
membahagiakan, membanggakan, memotivasi, sampai cerita-cerita lucu yang mampu
membuat pembaca tersenyum bahkan tertawa.
Cerita sarat makna yang dituliskan dengan dua teknik penulisan
berbeda, yaitu teknik penulisan esai ringan dan teknik penulisan fiksi layaknya
sebuah cerpen. Namun, tetap sama-sama menyuguhkan pengetahuan yang sekaligus mampu
mengubah mindset yang selama ini -secara sadar ataupun tidak- terus kita
aplikasikan dalam kehidupan kita. Yang sesungguhnya justru membuat diri kita
terus menerus berada pada titik yang sama.
Kita tengok saja pada cerita yang berjudul “Biar Cepat
Asal Selamat” yang menyadarkan kita bahwa sudah saatnya kita membuang peribahasa
“biar lambat asal selamat” dalam kamus hidup kita di dunia yang pergerakannya
semakin cepat ini. Pada cerita yang berjudul “Mengalir Seperti Air? Ke Laut
Aje!” menyadarkan diri kita untuk tidak lagi berpikir “bagaimana nanti” tapi
pikirkanlah “nanti bagaimana?”. Apakah kita akan memilih membiarkan diri kita
terbawa oleh arus air yang bisa saja membenturkan kita pada batu yang
mengakibatkan keterpurukan atau kah kita memilih untuk menyetir masa depan kita
sendiri, dengan “dayung” yang kuat sebagai alat. Yang bisa kita gunakan untuk
bisa menghindari dan menyelamatkan diri ketika arus membenturkan kita pada
keterpurukan. Kemudian pada cerita yang berjudul “Bersukses-sukses Dahulu, Kini
dan Kemudian” membuka pikiran kita bahwa kebahagiaan mustinya bisa kita nikmati
sejak kita memutuskan memulai proses untuk meraih kesuksesan yang ingin kita
capai, hingga sekarang dan nanti.
Pada “Dialog Lima Belas Juta” yang menceritakan
tentang ekspresi keterkejutan seorang temannya yang menyayangkan ketika Diday
mengatakan padanya bahwa, total uang yang dihabiskannya untuk membeli buku-buku
yang ia miliki, setelah diakumulasi adalah lima belas juta rupiah. Tapi Diday
berhasil menunjukkan padanya kalau pilihan membelanjakan uangnya untuk memebeli
buku-buku tersebut bukanlah hal yang sia-sia dan tak berguna. Karena justru
dengan pengetahuan yang didapatnya dari membaca buku-buku yang dibelinya tersebutlah
ia berhasil mengalahkan pesaing-pesaingnya, yang bahkan merupakan seniornya ketika
melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan di luar negeri. Dengan gaji 15 kali
lipat lebih banyak dari gaji yang ia dapatkan dari perusahaan lama tempatnya
bekerja. Yang berarti telah mengembalikan modal lima belas jutanya, yang ia
gunakan untuk membeli buku plus dengan untung yang berlipat-lipat.
Cerita-cerita
lain yang tak kalah bermanfaat dan memotivasi bisa kita simak dalam buku ini.
Hidup
adalah pilihan. Apakah kita memilih untuk mengabaikan dan melewatkan segala hal
yang terjadi dalam hidup kita begitu saja, atau kah kita memilih untuk
menghargai dan memaknai sebuah peristiwa, meski pun peristiwa itu kecil, membagikannya
dan membuatnya berguna untuk orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa tanggapan kamu tentang tulisan ini?